Bisnis Jalan tapi Uang Nggak Kelihatan? Mungkin Accounting System Kamu Masalahnya!
Bisnis Rapi Dimulai dari Sistem yang Rapi
Halo, Sobat PajakBro!
Pernah nggak sih kalian merasa penjualan lagi bagus-bagusnya, omzet naik, tapi giliran mau bayar gaji karyawan atau bayar pajak, kok rasanya uang di rekening "ngepas" banget? Atau lebih parah lagi, saat mau lapor SPT Tahunan, kalian pusing tujuh keliling mencari nota-nota belanja bulan Januari yang entah terselip di mana.
Kalau kalian mengangguk, berarti ada satu hal fundamental yang mungkin terlewat di bisnis kalian: Accounting System (Sistem Akuntansi).
Sebagai orang yang sehari-hari ngobrol dengan Wajib Pajak di kantor pajak, saya sering menemukan kasus di mana pengusaha sebenarnya taat bayar pajak, tapi jadi kena masalah administrasi cuma gara-gara pencatatan keuangannya (pembukuan) tidak rapi.
Nah, kali ini mari kita bahas apa sih makhluk bernama Accounting System ini, dan kenapa dia bisa jadi penyelamat hidup kalian.
Apa Itu Accounting System? (Bukan Sekadar Catat Utang)
Sederhananya, Accounting System adalah "seni" dan metode untuk mengorganisir catatan, formulir, dan laporan keuangan agar menjadi informasi yang berguna.
Bayangkan sistem ini seperti sistem pencernaan dalam tubuh bisnis kalian. Ada makanan masuk (transaksi), diproses (jurnal/buku besar), dan menghasilkan energi (laporan keuangan) untuk lari kencang.
Tujuannya apa?
- Manajemen: Biar bos tahu duitnya lari ke mana.
- Pajak: Ini yang krusial. Sistem yang benar akan menghasilkan perhitungan pajak (PPh dan PPN) yang akurat, tepat waktu, dan bisa dipertanggungjawabkan kalau sewaktu-waktu diperiksa DJP.
4 Pilar Utama dalam Sistem Akuntansi
Membangun sistem akuntansi itu nggak harus langsung canggih pakai software mahal (walau itu sangat membantu). Yang penting, pahami dulu empat unsur dasarnya. Kalau manual saja sudah rapi, pindah ke digital bakal gampang banget.
1. Formulir (Bukti Transaksi)
Ini adalah hulu dari segala pencatatan. Tanpa formulir, akuntansi hanyalah imajinasi. Dalam bahasa pajak, kita mengenalnya sebagai Bukti Pendukung.
Contoh: Faktur Penjualan (Invoice), Faktur Pajak, Bukti Kas Keluar, Nota Kontan.
Tips: Jangan pernah buang sekecil apapun struk belanja operasional kantor. Simpan dan arsipkan! Di mata auditor pajak, "No Bukti = No Transaksi".
2. Jurnal (Buku Harian Bisnis)
Setelah bukti transaksi terkumpul, data itu harus dicatat ke dalam Jurnal. Ini adalah catatan kronologis (berurutan waktu).
Di sini transaksi dipilah: mana yang masuk Debit, mana yang Kredit.
Fungsinya: Merekam sejarah. Kalau mau tahu "Tanggal 5 kemarin kita beli apa aja?", lihatnya di Jurnal.
3. Buku Besar (The Big Ledger)
Kalau Jurnal itu catatan harian yang campur aduk, Buku Besar adalah lemari pengelompokannya. Semua transaksi dikelompokkan berdasarkan akunnya (rekeningnya).
Semua transaksi "Kas" dikumpulkan jadi satu.
Semua transaksi "Utang" dikumpulkan jadi satu.
Hasilnya: Kita bisa tahu saldo akhir dari setiap akun. Misalnya, sisa kas kita detik ini ada berapa.
4. Buku Pembantu (Subsidiary Ledger)
Ini adalah "detektif" rinciannya. Buku Besar cuma bilang "Total Utang Usaha: 100 Juta". Tapi, utang ke siapa saja? Kapan jatuh temponya? Nah, Buku Pembantu yang menjawab itu secara rinci.
- Buku Pembantu Utang
- Buku Pembantu Piutang
- Buku Pembantu Stok Barang
- Penting buat Pajak: Buku pembantu ini sering diminta saat pemeriksaan untuk mencocokkan lawan transaksi (lawan transaksi PPN atau Bukti Potong PPh 23).
Kesimpulan: Jangan Tunggu Besar Baru Rapi
Banyak yang bilang, "Ah, bisnis saya masih kecil, catat di buku tulis aja cukup." Padahal, Accounting System yang baik justru harus dibangun saat bisnis masih kecil. Ketika transaksi sudah ribuan per hari, membenahi sistem yang berantakan itu biayanya mahal dan menyakitkan, lho.
Apalagi sekarang aturan perpajakan menuntut Pembukuan bagi Wajib Pajak Badan dan Wajib Pajak Orang Pribadi dengan omzet tertentu (di atas Rp4,8 Miliar wajib pembukuan, di bawah itu minimal pencatatan).
Dengan sistem yang rapi, tidur kalian bakal lebih nyenyak karena tahu persis kondisi keuangan perusahaan, dan saat lapor pajak pun hati tenang.
Jadi, sudah seberapa rapi sistem akuntansi di bisnis kalian? Yuk, mulai benahi dari sekarang!